Pondok Pesantren Ngalah: Merawat Tradisi, Menyemai Harmoni dan Multikulturalisme

NADIDESA.COM, PASURUAN – Berdiri megah di kawasan Sengonagung, Purwosari, Pasuruan, Pondok Pesantren Ngalah bukan sekadar lembaga pendidikan agama biasa. Di bawah asuhan sang inisiator, KH. Sholeh Bahruddin, pesantren ini telah bertransformasi menjadi oase kedamaian yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan di tengah keberagaman bangsa.

Falsafah “Ngalah” yang Mendalam

Nama “Ngalah” bukan berarti kalah tanpa perlawanan. Secara filosofis, Ngalah diambil dari ungkapan Jawa yang bermakna “menuju Allah” (Ngalallah). Falsafah ini mengajarkan para santri untuk memiliki kerendahan hati, mendahulukan kepentingan bersama, dan tidak terjebak dalam egoisme kelompok. Inilah yang menjadi fondasi utama karakter santri Ngalah: cerdas secara intelektual, namun lembut dalam bersosialisasi.

Pesantren Multikultural yang Mendunia

Salah satu ciri khas yang membuat Pondok Pesantren Ngalah dikenal hingga mancanegara adalah keterbukaannya terhadap keberagaman. Pesantren ini seringkali menjadi laboratorium sosial bagi berbagai kalangan, baik antar-ormas maupun antar-umat beragama.

KH. Sholeh Bahruddin selalu menekankan pentingnya Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Tidak jarang, tamu dari berbagai latar belakang keyakinan dan akademisi internasional datang ke sini untuk belajar bagaimana Islam dan kearifan lokal bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.

Pendidikan Modern Berbasis Salaf

Meskipun dikenal sangat terbuka, Ponpes Ngalah tetap menjaga khazanah keilmuan kitab kuning (Salaf). Kurikulum yang diterapkan merupakan perpaduan harmonis antara:

  1. Pendidikan Diniyah dan Madrasah Al Qur’an: Penguatan tauhid, fiqih, dan akhlak.
  2. Pendidikan Formal: Mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi (Universitas Yudharta Pasuruan) yang berada dalam satu ekosistem.
  3. Kemandirian Ekonomi: Santri dibekali keterampilan kewirausahaan agar siap terjun ke masyarakat.

Menjadi Jembatan di Tengah Perbedaan

Di era digital di mana polarisasi sering terjadi, kehadiran Pesantren Ngalah menjadi sangat relevan. Pesantren ini mengajarkan bahwa menjadi Muslim yang taat tidak berarti harus memusuhi mereka yang berbeda. Sebaliknya, Islam hadir sebagai Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta alam).

“Islam itu merangkul, bukan memukul. Islam itu mengajak, bukan mengejek,” pesan yang sering tersirat dalam setiap pengajian yang disampaikan oleh Pengasuh yakni KH Sholeh Bahrudin

Pondok Pesantren Ngalah adalah bukti nyata bahwa pesantren bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI melalui jalur pendidikan dan budaya. Bagi santri yang menimba ilmu di sini, mereka tidak hanya pulang membawa ijazah, tetapi membawa misi perdamaian untuk dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *