Nadidesa.com-Bagi anak yang tumbuh di pedesaan beberapa dekade lalu, aroma mie instan yang menyeruak di tengah sunyinya dini hari bulan Ramadhan adalah aroma “kemewahan”. Tidak ada yang bisa mengalahkan kepulan asap dari mangkuk jago saat sahur, di mana mie instan bukan sekadar pengganjal perut, melainkan simbol status yang membuat tetangga sebelah merasa iri.
Dulu, mie instan tidak dibeli per kardus. Ia dibeli per bungkus dengan penuh perhitungan. Penulis masih ingat betul, makan mie instan saat sahur terasa seperti perayaan kecil. Di kalangan masyarakat desa saat itu, nasi dengan lauk mie instan adalah menu “orang berada”. Jika ada keluarga yang memasak mie, aroma bumbunya yang tajam seolah menyebarkan pesan ke seluruh penjuru angin: “Kami sedang makan enak hari ini.”
Kala itu, kita tidak peduli dengan urusan nutrisi. Yang kita tahu, rasa gurihnya adalah penyemangat untuk kuat berpuasa hingga bedug Maghrib tiba. Menyeruput kuah kuningnya yang berminyak terasa seperti kemewahan tiada tara di atas meja kayu yang sederhana.
Namun, waktu mengubah segalanya. Kini, mie instan telah turun tahta dari simbol status menjadi “makanan darurat” atau sahabat setia mahasiswa di akhir bulan, atau santri dengan priok gosongnya. Sayangnya, seiring dengan kemudahannya ditemukan di setiap sudut warung, label “bahaya” pun mulai melekat erat.
Dulu kita menganggapnya makanan bergizi karena kemasannya yang modern, namun sekarang ilmu pengetahuan berkata lain: (1). Tinggi Natrium (Garam), Satu bungkus mie instan bisa mengandung lebih dari setengah kebutuhan garam harian kita. Ini adalah “undangan” bagi tekanan darah tinggi. (2). Karbohidrat Kosong, Mie instan kaya kalori tapi minim serat, protein, dan vitamin alami. Ia mengenyangkan, tapi tidak memberi “bahan bakar” yang berkualitas bagi sel tubuh. (3). Bahan Pengawet & Zat Aditif, Meski dinyatakan aman dalam batas tertentu oleh badan pengawas obat dan makanan, konsumsi jangka panjang dan berlebihan sering dikaitkan dengan gangguan metabolisme.
Memang sulit melepaskan kenangan indah sahur masa kecil itu. Mie instan tetaplah comfort food nomor satu bagi banyak orang. Namun, di era sekarang, kita dituntut untuk lebih bijak. Jika dulu kita bangga memakannya karena merasa “mampu”, sekarang kita harus “mampu” menahan diri untuk tidak mengonsumsinya secara ugal-ugalan.
Menikmati mie instan sesekali untuk merawat ingatan masa kecil tentu tidak dosa. Namun, pastikan untuk “menaikkan kelasnya” kembali dengan cara yang lebih sehat: tambahkan sayuran hijau, telur, atau sumber protein lainnya, dan jangan lupa kurangi penggunaan bumbu instannya.
Masa kecil kita mungkin diwarnai dengan kepolosan tentang kesehatan, tapi masa depan kita bergantung pada apa yang kita masukkan ke dalam mangkuk hari ini.