Vibes Ramadhan Satu Dekade: Ketika “Ngabuburit” Berubah Jadi “Nguber Duwet”

Nadidesa.com-Coba pejamkan mata sejenak. Putar mundur waktu ke sepuluh tahun lalu. Sore hari di bulan Ramadhan. Udara terasa lebih ringan, dan beban di pundak mungkin hanya sebatas tugas kuliah atau galau karena pesan singkat ke gebetan yang belum dibalas. Pukul empat sore adalah waktu keramat untuk mulai memanaskan mesin motor. Tujuannya tidak jelas, yang penting keluar rumah. Istilah kerennya adalah Ngabuburit.

Sekarang, buka mata. Tahun 2026. Pukul empat sore, Anda mungkin masih terjebak macet sepulang kerja, atau sedang di depan laptop mengejar deadline sebelum cuti bersama. Pikiran bukan lagi soal “nanti buka puasa pakai es buah apa”, melainkan “THR sudah cair belum ya? nyari peluang rezeki tambahan dimana?, Cukup tidak untuk beli baju koko si Kecil, hampers buat mertua, dan sangu untuk dua lusin keponakan di Desa? atautoplesnya diisi apa?”

Selamat datang di fase kehidupan yang baru. Fase di mana vibes Ramadhan bergeser drastis dari romansa Ngabuburit menjadi realita Nguber Duwet. Sepuluh tahun lalu, Ramadhan terasa seperti sebuah festival panjang yang santai. Kita punya energi berlebih. Sore hari dihabiskan untuk berburu takjil di pasar kaget, meski ujung-ujungnya hanya beli gorengan lima ribu perak.

Agenda paling padat adalah menyusun jadwal “Bukber” (Buka Puasa Bersama). Mulai dari bukber teman SD, SMP, SMA, Kuliah, temen komunitas, organisasi hingga teman satu tongkrongan. Padahal kita semua tahu, 80% dari rencana itu hanya berakhir sebagai wacana di grup chat.

Saat itu, kita adalah pusat dari dunia kita sendiri. Kebahagiaan Ramadhan itu sederhana: kumpul teman, ketawa-ketiwi sampai tarawih lewat, dan merencanakan baju baru apa yang akan dipakai saat sholat Ied nanti. Dompet tipis tidak masalah, yang penting vibes-nya dapat.

Waktu berjalan cepat, dan tiba-tiba saja kita sudah berdiri di posisi orang tua kita dulu. Kini, setelah berkeluarga, kata “Ngabuburit” rasanya menjadi barang mewah. Waktu sore hari adalah perlombaan melawan waktu. Bagi para ayah, ini adalah jam-jam krusial berjuang di jalanan sepulang kantor, berharap sampai di rumah sebelum adzan Maghrib berkumandang agar bisa berbuka dengan anak istri. Bagi para ibu, ini adalah jam “tempur” di dapur, memastikan menu berbuka tersaji sehat, sambil mungkin menenangkan balita yang mulai rewel karena lapar.

Menjelang Hari Raya, radar kepala keluarga bukan lagi mencari di mana tempat nongkrong paling asik, melainkan mencari peluang “cuan” tambahan. Ramadhan berubah menjadi mode “Nguber Duwet” (mengejar uang) yang intens.

Kenapa? Karena kebahagiaan kita telah bergeser. Kita tidak lagi pusing dengan baju baru kita sendiri. Tapi melihat anak merengek minta baju muslim bergambar superhero favoritnya, hati siapa yang tidak luluh? Melihat istri diam-diam mengecek harga kue kering di toko online, sebagai suami, naluri untuk memenuhinya langsung menyala.

Belum lagi persiapan mudik. Tiket transportasi, servis kendaraan, oleh-oleh untuk di kampung, hingga amplop-amplop “sangu” yang wajib disiapkan agar tidak dicap pelit oleh keluarga besar. Semua itu butuh amunisi yang tidak sedikit. Adakah rasa rindu pada masa-masa ngabuburit sepuluh tahun lalu? Tentu saja ada. Rindu pada kebebasan tanpa beban tagihan. Namun, jika ditanya apakah kita ingin kembali ke masa itu? Mungkin jawabannya: tidak juga.

Ada kepuasan batin yang berbeda di fase “Nguber Duwet” ini. Lelahnya bekerja seharian saat berpuasa, macet-macetan di jalan, dan pusingnya mengatur arus kas, semua itu terbayar lunas saat melihat senyum lebar di wajah anak saat mencoba baju barunya. Atau saat melihat kelegaan di wajah istri ketika kebutuhan dapur terpenuhi. Mungkin kita kehilangan waktu santai di jalanan sore, tapi kita mendapatkan makna baru tentang tanggung jawab.

Ramadhan kali ini, vibes-nya memang bukan lagi tentang hura-hura menunggu bedug. Ini adalah tentang perjuangan seorang kepala keluarga. Setiap tetes keringat dalam ikhtiar mencari rezeki halal untuk membahagiakan keluarga di Hari Raya, insya Allah, dicatat sebagai pahala yang jauh lebih besar daripada sekadar jalan-jalan sore tanpa tujuan.

Jadi, untuk para pejuang keluarga yang sedang “Nguber Duwet” di sisa Ramadhan ini: Luruskan niat, kencangkan ikat pinggang, dan percayalah, lelahmu itu berkah. Selamat berjuang!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *