Lapar Siang Hari Karena Allah, Tapi Kenyang Malam Hari Karena Nafsu, Lantas Puasa Kita Untuk Apa?

Nadidesa.com-Pernahkah kita merenung di penghujung hari, saat azan Maghrib berkumandang? Sepanjang siang, kita menahan lapar dan dahaga dengan niat tulus karena Allah. Kita merasa menang karena berhasil melewati ujian fisik. Namun, begitu waktu berbuka tiba, sering kali “kemenangan” itu gugur dalam sekejap di depan meja makan.

Fenomena ini menjadi ironi yang nyata,  Siang kita lapar karena iman, namun malam kita kenyang karena nafsu.

1. Jebakan “Balas Dendam” Saat Berbuka, Banyak dari kita yang terjebak dalam pola pikir kompensasi. Karena merasa sudah “menderita” menahan lapar seharian, kita merasa berhak memanjakan lidah tanpa batas saat malam tiba. Meja makan dipenuhi segala jenis hidangan, dan perut diisi hingga sesak. Secara medis, ini tidak sehat. Secara spiritual, ini berbahaya. Mengapa? Karena esensi dari menahan lapar (shaum) adalah untuk menundukkan nafsu (nafs), bukan sekadar memindahkan jam makan. Jika malam hari kita makan berlebihan, maka nafsu yang seharian kita “jinakkan” justru kembali bangkit dengan kekuatan penuh.

2. Antara Ibadah dan Kebiasaan, Lapar di siang hari karena Allah adalah bentuk ketaatan. Namun, jika malamnya kita menyerah pada kerakusan, itu pertanda bahwa puasa kita mungkin baru sebatas menahan perut, belum menahan hati. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin pernah mengingatkan bahwa salah satu rahasia puasa adalah melemahkan kekuatan setan yang masuk melalui aliran darah manusia melalui makanan. Jika kita menutup pintu itu di siang hari namun membukanya lebar-lebar di malam hari, maka tujuan penyucian jiwa itu menjadi sulit tercapai.

3. Dampak “Kenyang Nafsu” Bagi Ruhani, Perut yang terlalu kenyang sering kali membawa dampak instan, rasa malas: Malas untuk bangkit menunaikan salat malam, Malas untuk berzikir atau membaca Al-Qur’an dan Hati menjadi tumpul dan sulit merasakan kekhusyukan. Ibadah siang yang kita bangun dengan susah payah seolah luntur karena rasa kantuk dan beratnya tubuh akibat beban makanan yang berlebihan di malam hari.

4. Mencari Titik Tengah, (Menghidupkan Sunnah) Rasulullah SAW telah memberi teladan yang sangat sederhana namun sulit dipraktikkan: Berhentilah makan sebelum kenyang. Keseimbangan adalah kunci. Jika siang hari kita lapar karena Allah, maka jadikanlah malam hari kita kenyang yang “berkah”—yakni kenyang yang cukup untuk memberi energi dalam beribadah, bukan kenyang yang mematikan hati.

Penutup Mari kita jadikan setiap suapan di malam hari sebagai bentuk syukur, bukan pelampiasan. Jangan biarkan lapar siang kita yang mulia itu berakhir sia-sia hanya karena kita tak mampu mengendalikan sendok dan garpu di malam hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *